Senin, 14 Mei 2012

“Galau”nya Pemain Timnas Indonesia


Siapa sih yang nggak mau membela bangsanya di kancah dunia? Pasti sebagai warga negara yang baik akan selalu menerima apabila diperkenankan untuk membela. Tampil habis-habisan (all out) pasti dilakukan. Tak kenal suku, agama, ras, dan antar golongan. Itu semua demi kejayaan bangsanya. Termasuk Indonesia.
Namun, berbeda dengan uraian di atas, saat ini ternyata para pemain sepakbola Indonesia sedang “galau”. Kenapa ya?
Ya...kita sudah banyak mendengar berita di berbagai media informasi, bahwa konflik yang terjadi di otoritas badan tertinggi sepakbola Indonesia, PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), tak kunjung usai.
Berawal dari pelengseran (impeachment) terhadap kepemimpinan Nurdin Halid. Kebanyakan anggota PSSI meminta Nurdin turun karena dianggap tak becus memperbaiki persepakbolaan Indonesia. Konflik kepemimpinan ini pun memuncak kala timnas gagal menjuarai piala AFF (kejuaraan sepakbola se-Asia Tenggara). Nurdin seolah tetap kekeh memimpin PSSI, akan tetapi desakan untuk mundur terus bergulir dari seluruh penjuru nusantara. Badan sepakbola tertinggi di dunia, FIFA, sampai turun tangan untuk mengakhiri konflik ini dengan membentuk komite normalisasi yang diketuai Agum Gumelar. Akhirnya terpilih Johan Arifin sebagai ketua umum PSSI yang baru.
Harapan baru pun muncul, timnas Indonesia merengkuh gelar juara, setelah sekian lama puasa gelar. Ratusan juta rakyat Indonesia siap membela timnas Merah-Putih demi gelar juara. Akan tetapi sampai saat ini prestasi yang diharapkan tak kunjung datang. Justru PSSI pimpinan Johan Arifin ini seakan menciptakan banyak konflik baru. Dari pergantian kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia (dari LSI menjadi LPI), hingga penyelewengan terhadap hasil kongres resmi PSSI di Bali.
Siapa sangka hal ini bisa terjadi? Kepercayaan yang diberikan kepada Johan Arifin justru belum mampu mengangkat prestasi bagi timnas Indonesia. Hal ini menyebabkan rakyat Indonesia bergolak lagi menuntut Johan Arifin mundur dari jabatannya. Kongres Luar Biasa di Ancol pun akhirnya memilih ketua umum baru walaupun FIFA belum memberikan restu terhadap diselenggarakannya kongres tersebut. Ya....kita sudah tahu kan, bahwa selain dualisme liga yang membuat sepakbola Indonesia terpecah, tetapi dualisme PSSI. Apa artinya? Hehe, ada dua PSSI di Indonesia. Lucu...itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi di persepakbolaan kita. Negara pertama di dunia yang memiliki dua lembaga tertinggi sepakbola, bahkan namanya sama, “PSSI“. Hanya bisa geleng-geleng kepala rakyat Indonesia menyaksikannya.
Konflik yang tak kunjung padam berdampak pada timnas Indonesia. Kalah 10-0 dari Bahrain sungguh menjadi pukulan berat bagi PSSI versi Johan Arifin. Padahal timnas Indonesia pernah mengalahkan timnas Bahrain ketika bermain di Piala Asia. Ironis bukan? Hal inilah yang membuat PSSI versi Johan Arifin akhirnya mau memanggil para pemain yang berkompetisi di Liga Super untuk membela timnas (liga yang dianggap ilegal). Akan tetapi ternyata PSSI versi KLB Ancol juga tengah membentuk timnas Indonesia. Ya...jadi ada dua timnas kan. Klub liga super melarang pemain bergabung dengan timnas PSSI Johan Arifin. Mungkin klub liga super menginginkan pemain bergabung dengan PSSI hasil KLB Ancol kali ya.  Padahal kan sampai saat ini PSSI yang diakui FIFA tetap PSSI pimpinan Johan Arifin. Jadi, timnas pimpinannya lah yang berhak tampil di kejuaraan internasional. Lagi-lagi, rakyat Indonesia dibuat geleng-geleng kepala.
Hal inilah yang membuat para pemain Indonesia “galau”. Membela bangsanya atau mematuhi perintah klub? Tapi siapa sih yang nggak mau membela bangsanya. Masa’ mau 10-0 lagi seperti saat lawan Bahrain. Ternyata berbagai hasil mengecewakan timnas PSSI Johan Arifin membuat beberapa pemain liga super geram. Sebut saja Okto Maniani dan Titus Bonai. Kedua pemain ini rela melanggar perintah klubnya demi bergabung timnas Indonesia versi PSSI Johan Arifin. Mereka ingin mengembalikan kejayaan Indonesia. Apa salah jika kedua pemain ini mati-matian membela bangsa Indonesia?
Inilah naluri warga negara yang tak rela jika bangsanya hancur. Tak ada kata takut melanggar untuk membela bangsa. Tak ada kata terlambat. Kita hanya bisa berharap semoga konflik PSSI ini segera usai, termasuk dualisme PSSI. PSSI damai. Damai untuk negeri adalah hal mulia. Demi bangsa kita, Indonesia.
Rakyat Indonesia rindu prestasi. Rakyat Indonesia ingin melihat timnas sepakbolanya tampil di kejuaraan sekelas piala dunia. Rakyat Indonesia ingin meraih gelar juara piala dunia. Kapan? Sebatas mimpi atau akan terealisasi? Mari kita buktikan bersama-sama teman. Yakin, kita pasti bisa!!

Wonosari, Yogyakarta, 13 Mei 2012
       Penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar