Kamis, 04 Juli 2013

Gunung Merbabu itu.....Lowy Man!


Hari mulai siang, namun perlengkapan yang harus kubawa sama sekali belum kupersiapkan. Rencananya pada sore hari pada tanggal 9 Mei 2013, aku dan kakakku, Herlin Pancasilawati, berangkat dari Kota Wonosari menuju kota Solo. Kami diajak oleh teman SMA ku yang bernama Lukman Fahreza untuk mendaki Gunung Merbabu. Sehingga persiapanku dan kakakku harus dikebut untuk mengejar waktu, karena pada malam hari kami harus memulai pendakian.
Setelah semua persiapan dirasa cukup, aku dan kakakku pun berangkat menuju Kota Solo untuk bertemu Rere (panggilan Lukman Fahreza). Ternyata setelah ketemu, dia juga mengajak temannya dari Kamboja. Namanya Loh Man, mahasiswa Teknik Sipil UNS , satu jurusan dengan Rere.  
Jalur Perjalanan menuju Gunung Merbabu

Beberapa waktu kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju kaki gunung Merbabu. Kebetulan kami memilih jalur pendakian dari daerah Selo yang terletak di Kabupaten Boyolali. Jalan yang kami lalui  untuk mencapai basecamp cukup terjal dan sempit, sehingga kami harus selalu hati-hati. Sesampainya di basecamp pada sekitar pukul 21.00 WIB, kami langsung membeli tiket masuk Gunung Merbabu. Kakakku bercerita bahwa dia sedang tidak enak badan, dia muntah di kamar mandi. Saya anjurkan dia untuk tidak ikut mendaki dan istirahat di basecamp. Namun dia seakan memaksakan diri untuk memulai pendakian. Akhirnya kami berempat pun naik berbarengan. Namun setelah hampir sampai pos 1, keadaan kakakku sepertinya mulai drop lagi, dan dia memutuskan untuk kembali ke basecamp. Aku pun mengantarkannya kembali ke basecamp. Dengan kondisi kakakku seperti itu, semangatku untuk memulai pendakian pertamaku, seperti redup, tak menyala-nyala lagi. Namun berkat dorongan semangat dari kakakku, dan dia meyakinkanku bahwa dia bisa menjaga diri di basecamp, akhirnya aku pun memberanikan diri lagi untuk memulai pendakian kembali.

Rute pendakian Gunung Merbabu jalur Selo Boyolali

Pendakian ini akhirnya hanya diikuti 3 orang, yang awalnya 4 orang. 3 orang itu adalah aku, Rere, dan Loh Man. Kami mendaki sesuai jalur pendakian yang kami rekam dalam kamera digital ketika kami tadi sampai di basecamp pertama kalinya, setidaknya hingga pertengahan antara pos 1 dan pos2. Hal ini disebabkan kamera yang habis baterainya. Karena di antara kami bertiga, hanya Rere yang pernah muncak Merbabu, maka aku dan Loh Man memilih jalur yang pernah dilalui Rere. Namun jalur ini ternyata adalah jalur yang sebenarnya lebih jauh dan terjal daripada jalur pendakian normal, walaupun akhirnya bertemu di pos 3 atau biasa disebut pos batu tulis. Itu artinya kami pada saat berangkat, tidak melalui pos 2, melainkan langsung pos3. Setelah sampai pos 3, kami pun lega. Di pikiranku, pendakian mungkin tak lebih dari 3 jam lagi.
Sempat terbesit bisa melihat bunga edelweiss, tapi ternyata tak ada bunga yang mekar.  Menikmati pemandangan di tengah perjalanan menjadi obat lelah kami. Bertaburan bintang di langit, diselingi bintang jatuh, ditambah keindahan kota Boyolali semakin memantapkan hati untuk mencapai puncak. Pada pukul 04.00 WIB, kami merasa sangat lelah, dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda guna beristirahat. Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan.
Sesuatu yang kami sesali dalam pendakian ini adalah kami tak membawa kamera yang baterainya penuh. Hanya sempat beberapa kali dokumentasi, kamerapun tak kuat lagi untuk mendokumentasikan perjalanan ini. Kami yakin di balik kejadian kamera ini, pasti ada berkah. Dan ternyata, kami pun dipertemukan dengan rombongan pendaki yang kebetulan sedang berfoto ria. Dengan niat meminjam kamera, kami berkenalan dengan mereka. Beberapa diantaranya adalah mbak Shi Dath, mas Marta, mbah Sarap, mas Rian, dll. Tak menyangka mereka pun meminjamkan kamera itu. Setelah beberapa foto dokumentasi didapat, kami pun berinisiatif untuk bertukar nama akun media sosial, untuk kemudian foto-foto itu dikirim. 



Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Merbabu (puncak triangulasi). Hmmm, setelah melewati beberapa bukit dan lembah, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Merbabu pada pukul 09.00 WIB. Huh….lelah terbayar dengan keindahan alam. Terlihat Gunung Lawu, Gunung Sindoro, Gunung Merapi, dan Gunung Ungaran. Sempat terpikir ingin mengabadikan puncak merbabu dengan merah putih, tapi saya tidak membawa bendera. Eh…di puncak gunung kembali bertemu dengan rombongan mbak Shi Dath tadi. Saat keinginan mengabadikan dengan merah putih, ternyata mbah Sarap membawanya. Akhirnya kami bisa berfoto ria di puncak menggunakan  merah putih itu. Selain itu, kami juga bertemu anak kecil yang sudah mendaki 7 puncak gunung. Hehe, jadi termotivasi untuk mendaki gunung lagi di lain waktu.






Setelah puas menikmati pemandangan di puncak triangulasi, rombonganku bersama rombongan mbak Shi Dath tadi bersama-sama menuju puncak Klentheng Songo. Nah…di sini terdapat kepercayaan bahwa apabila kita dapat menghitung klentheng berjumlah Sembilan, berarti kita orang yang baik. Silakan saudara mempercayai atau tidak. Tak ketinggalan kami juga mengabadikan moment di puncak Klentheng Songo ini. Selain itu, kami juga mendapatkan teman baru, mereka berasal dari Ceko Slovakia. Wew…di puncak banyak teman baru……. 

Waktu yang terus berjalan memaksa kami untuk segera turun menuju kaki gunung. Saya, Rere, dan Lohman segera menuju tenda untuk kembali ke kaki gunung. Salam bersambung (kapan-kapan jumpa lagi) pun kami sampaikan pada teman-teman baru kami di puncak Merbabu. Harapan berjumpa lagi di tempat lain pun kami sampaikan juga.
Di perjalanan menuju kaki gunung, kami berusaha menikmati keindahan alam. Namun di tengah perjalanan, kami melihat seorang mas yang tadi terlihat tergabung dalam sebuah kelompok, tengah berjalan sendirian. Kami pun berinisiatif menanyakan hal tersebut. Mas itu pun bercerita pada kami. Ceritanya berujung pada kalimat, “Saya ditinggal rombongan yang telah berjalan duluan di depan, saya tidak mengetahui keberadaan mereka, dan saya berjalan sendirian dalam kondisi sakit”. Dengan kondisi seperti itu, kami tidak tega melihat ma situ menuju kaki gunung sendirian. Kami pun membantu mas itu untuk menuju kaki gunung. Tetapi kemudian, saya teringat kondisi kakakku yang menunggu di basecampdalam kondisi sakit pula. Dengan berbagai pertimbangan dan dialog dengan Rere, Lohman, dan mas itu, saya pun diijinkan untuk berjalan mendahului mereka, untuk memastikan kondisi kakakku yang di basecamp. Setelah berjalan selama kurang lebih 4 jam, saya pun akhirnya sampai di basecamp pukul 16.00 WIB. Alhamdulillah, saya mendapati kondisi kakakku yang sudah membaik. Sedangkan Rere, Lohman, dan mas itu sampai di basecamp sekitar pukul 18.00 WIB.
Sebuah perjalanan yang sungguh menakjubkan. Tak hanya kesenangan pribadi yang didapat, tetapi juga kesenangan berinteraksi dengan orang lain. Banyak pelajaran yang saya dapat dari perjalanan ini, perjalanan naik gunung yang pertama, yaitu tolong menolong, solidaritas, kekompakan, dan masih banyak yang lain. Ungkapan bersyukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa tak henti-hentinya saya ucapkan. Melihat begitu indahnya alam Indonesia ini, serta sifat manusianya yang sangat mengutamakan gotong royong dan musyawarah dalam mengambil keputusan. Semakin ingin menikmati keindahan alam Indonesia yang lain. Semoga perjalanan kali ini menjadi pelajaran yang berharga bagi saya dan teman-teman saya. Wew…Lowy Man! J

Yogyakarta, 1 Juli 2013
Bondan Galih Dewanto

8 komentar:

  1. Ada nama orang keren di sebut-sebut di sini. :)

    anw, ayo makin sering update blognya. keep on writing and blogging, Bondan :)

    see ya in another mountains.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe,baru sempet post mbak. tp emang keren mbak orangnya, :) just try to share our experience...blognya mbak shi dath apa?
      sipsip mbak, seneng nih bisa dapat teman di puncak gunung. selanjutnya mana? jadi sindoro atau sumbing?

      Hapus
    2. blogku? klik aja link di namaku (Langit) ntar langsung ke-direct langsung ke blog.

      sumbing atau sindoro? ntar ya, aku masih mau koordinasi sama temen-temen dulu, gimana-gimananya ntar aku kasih kabar. :)

      Hapus
    3. haha, sipsip mbak, udah aku buka. :)
      iya nih, ayo...ndaki bareng lagi...

      Hapus
  2. Buat kamu yang ingin belajar rubrik, terutama untuk pemula: http://student.blog.dinus.ac.id/sasjepyusufal/2016/11/13/cara-mudah-menyelesaikan-rubik-3x3-untuk-pemula/

    BalasHapus
  3. Sejarah singkat tentang Tokyo: http://student.blog.dinus.ac.id/mataharilanangpanggulu/2016/10/13/sejarah-singkat-tokyo-%e6%9d%b1%e4%ba%ac/

    BalasHapus
  4. Jangan lupa untuk wisata kuliner juga di Semarang jika anda berlibur ke Semarang. Ada banyak jenis makanan khas Semarang hlo yang mantap; http://student.blog.dinus.ac.id/c11eddomarselo28/2016/10/19/5-top-jajanan-enak-di-kota-semarang/

    BalasHapus
  5. http://student.blog.dinus.ac.id/sasjepyusufal/2016/11/13/cara-mudah-menyelesaikan-rubik-3x3-untuk-pemula/

    Yuk berkunjung jung jung jung, guys.

    BalasHapus