Kamis, 08 Januari 2015

Belajar dan Berbagi


Bagi sebagian orang, terjun berlumpur-lumpur dan menghirup bau anyir mayat adalah hal yang sangat menjijikkan. Namun tidak bagi relawan bencana seperti SAR, TNI, POLRI, dan kami relawan dari Teknik Geodesi UGM. Cerita ini berawal dari sebuah telepon yang bordering pada Selasa 16 Desember 2014. Ketika itu Pak Ruli Andaru, salah satu dosen saya, menelpon saya. Beliau menawarkan kepada saya untuk ikut dalam tim studi bencana utusan dari UGM pergi ke lokasi bencana tanah longsor di Banjarnegara. Dalam hal ini saya langsung menanyakan, apa tugas saya? Dan ternyata beliau menjawab akan membuat 3D bentuk lokasi bencana. Ada kemungkinan kita dapat mengukur volume longsoran, apabila diketahui volume sebelum terjadinya longsor.
Untuk menuju tujuan, diperlukan titik GCP (Ground Control Point) sebagai titik ikat yang diukur menggunakan GPS Geodetik. Setelah GCP selesai, dipotretlah dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Awalnya saya ragu apakah akan menerima tawaran tersebut atau tidak. Pertama, karena saya masih belum mahir memegang alat-alat tersebut, bisa dibilang masih dangkal, karena mengambil mata kuliah survey GNSS saja baru semester ini. Kedua, saat itu sedang akan menghadapi masa ujian pada hari Senin 22 Desember 2014. Ketiga, saya harus pergi ke Surabaya pada Sabtu 20 Desember 2014 menghadiri musyawarah nasional IMGI (Ikatan Mahasiswa Geodesi Indonesia). Namun tawaran ini pun saya piker tidak mungkin saya lewatkan begitu saja. Dengan diyakinkan Pak Ruli bahwa aka nada briefing sebelum ke lapangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk ikut ke Banjarnegara. Ya, selain ini tugas dari kampus yang harus dijalani, saya juga dapat memperdalam kemampuan saya dalam penggunaan alat-alat tersebut dan tentunya berbagi dengan sesama sebagai misi kemanusiaan. Kencangkan ikat pinggang, tatap ke depan, terima tantangan, ini misi kemanusiaan!!
Persiapan tim

Persiapan pun dilakukan pada hari Rabu 17 Desember 2014. Tim ini terdiri dari Bapak Ruli, Bapak Iqbal, Mas Adon, Kevin, Sapta, dan saya. Dari pagi hari, kami sibuk mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa. 5 buah GPS Geodetik dan kelengkapannya kami siapkan. Pesawat UAV pun tak luput dari perhatian. Briefing penggunaan alat dilakukan seketika setelah alat-alat disiapkan. Memastikan bahwa kami tidak lupa dalam penggunaan alat, hehe. Selain dari alat, kami juga merencanakan jalur terbang dari pesawat UAV yang akan diterbangkan untuk memotret dari udara. Saat itu aplikasi yang digunakan adalah google earth untuk plotting rencana titik dan pembagian sesi pengukuran, dan global mapper untuk mengukur luas area yang akan kita kerjakan. Dan dari hasil perencanaan, areanya adalah sekitar 1000ha. Sampai sore sekitar pukul 16.00 WIB kami persiapan segala hal untuk pergi.
Rencananya kami berangkat hari Rabu malam hari, namun dengan pertimbangan tidak ada penginapan, kami akhirnya memutuskan berangkat pada hari Kamis 18 Desember 2014 dini hari, sehingga ketika sampai lokasi, langsung data bekerja. Seketika sampai di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB, kami mulai membagi tim ini dalam 5 titik GCP. Langsunglah saya siapkan alat-alat yang digunakan. Metode yang digunakan untuk mengukur koordinat titik ini adalah metode static, mengharuskan semua titik siap terlebih dahulu kemudian klik mulai bersamaan. Perlu sekitar 2 jam untuk moving dan mempersiapkan alat-alat karena area yang dicakup cukup luas. Di saat menunggu itu, saya melihat saya yang merupakan lokasi bencana. Ada mobil ringsek di depan mata saya bekas yang ikut aliran longsor.  Ada juga tebing yang sangat curam dan bisa longsor sewaktu-waktu. Di sisi lain, saya lihat ratusan orang bergerak bersama mencari korban-korban yang masih tertimbun longsoran tanah. Kondisi tanah yang berlumpur tak menyurutkan nyali untuk terus mencari. Saya juga sempat ngobrol dengan salah seorang TNI yang sedang menjadi relawan, bahwa beliau memang sering terlibat dalam aktifitas seperti ini. “Ini adalah bentuk pengabdian saya sebagai abdi negara mas”, beliau berkata seperti itu. Satu kata saja, SALUT untuk para pejuang kemanusiaan. Seperti itu sepenggal obrolan di saat menunggu semua alat siap. Sekitar pukul 10.30 Pak Ruli mengkomunikasikan kepada tim lewat HT bahwa pukul 11.00 WIB dimulai pengukuran. Sekitar 1 jam diperlukan untuk pengukuran koordinat ini. Cuaca saat itu panas sekali dan langit cerah, sangat kondusif untuk pengukuran. Sekitar pukul 12.00 kami akhiri sesi pertama. Sampai selesai pun cuaca cukup kondusif. Rapikan alat, pindah ke titik GCP lain untuk sesi kedua, itulah rencana kami. Namun cuaca sedemikian rupa cepat sekali berubah. Mendung dalam hitungan menit menyelimuti lokasi bencana. Hujan sangat lebat segera menyusul.
Pendirian GPS Geodetik

GPS Geodetik siap digunakan
Suasana di lokasi bencana

Dengan karakteristik tanah di lokasi bencana yang sangat labil, tim relawan dari berbagai instansi pun menarik diri dari lokasi untuk mencari tempat aman. Kebetulan titik GCP saya merupakan titik berkumpul. Setelah berkumpul, kami berdiskusi tentang kelanjutan pengukuran. Saya lalu ingat Kevin yang sudah terlanjur pindah tempat ke titik GCP lain. Pak Ruli pun memutuskan untuk terus lanjut melakukan pengukuran. Untuk mencapai titik GCP selanjutnya, tim harus melewati jalan penuh lumpur. Dan ketika berjalan di atas lumpur kurang lebih 100m, ada jalan yang terputus. Menurut  relawan lain, lokasi putusnya jalan ini dekat tebing yang sangat rawan longsor. Dan ternyata benar. Di lokasi ini ada semacam aliran air yang sangat deras memutus akses jalan menuju titik Kevin berada. Saking derasnya, kami tak berani melaluinya, karena kami juga membawa alat yang berat dan berharga tidak murah tentunya. “Resiko terlalu besar untuk kita lalui”, begitu kata Pak Ruli. Akhirnya beliau memutuskan untuk menunggu hujan reda. Sementara menunggu, kami kembali ke titik dimana kami berkumpul tadi. Komunikasi tak putus putus dengan Kevin untuk memastikan dia dalam kondisi baik-baik saja. Untung saja Kevin bersama Pak Wahyudi, driver mobil yang begitu tangguh. Berulang kali kami mengecek kembali lokasi putusnya akses jalan tadi. Hasilnya tetap saja, aliran deras begitu terlihat di depan mata. Sampai pukul 16.00 WIB pun tak ada tanda-tanda hujan akan reda. Kevin dan Pak Wahyudi masih di seberang jalan tak bisa lalui akses jalan yang terputus. Akhirnya sekitar pukul 17.00 WIB, Pak Ruli mengambil keputusan bahwa pengukuran dilanjutkan esok hari. Tapi kami kebingungan bagaimana cara menjemput Kevin sedangkan jalur terputus. Ada 2 opsi, yaitu kita menjemput Kevin dan Pak Wahyudi lewat jalur Dieng yang butuh waktu kurang lebih 3 jam perjalanan, atau meminta tolong tim relawan lain. Solusi kedua diambil. Pak Ruli segera menelpon tim dari UGM yang lain untuk mengantarkan Kevin dan Pak Wahyudi ke Wonosobo. Dan Alhamdulillah, tim tersebut merespon dengan baik dan bermurah hati membantu kami. Sepakat, ketemu di Wonosobo menjemput Kevin dan Pak Wahyudi. Menuju Kota Banjarnegara, kami mencari penginapan untuk berteduh. Yang menjemput Kevin dan Pak Wahyudi akhirnya Pak Ruli dan Pak Iqbal. Sementara saya, Sapta, dan Mas Adon tetap di penginapan. Dan akhirnya sekitar pukul 20.30 WIB, tim kami kembali lengkap. Hari pertama yang begitu mencengangkan untuk dilalui. Pengalaman pertama. Waawww
Akses jalan terputus 

Seorang bapak mencoba mengalirkan batu

Hari kedua, Jumat, 19 Desember 2014. Kami berangkat dari penginapan pukul 06.30 WIB. Seperti biasa, kami di briefing terlebih dahulu.  Untuk hari ini, selain pengukuran titik GCP kembali, saya ditugaskan untuk membantu dalam hal pemotretan udara menggunakan UAV. Tim menyebar, ada yang di lokasi longsoran bencana, ada juga di atas bukit untuk menerbangkan UAV. Dengan tugas membantu tim UAV, otomatis saya bersama mas Adon dan 2 teknisi UAV, harus ikut ke atas bukit. Saya pikir lokasinya sangat mudah dicapai. Namun, di luar perkiraan, jalan yang dilalui, sangatlah terjal. Aspal sih, tapi aspal jebol yang tinggal kerikil kerikil tajam. Bahkan, ada titik dimana jalan patah sekitar 30cm. Degdegserrr, itu yang saya rasakan. Inget banget, kami berjalan di tepi jurang yang apabila sopir tak tangguh, siap siap saja terjun. Doa selalu saya panjatkan dalam perjalanan agar diberikan keselamatan. Dan bersyukur, sampai dilokasi penerbangan UAV dengan selamat. Semua komponen pesawat pun segera dirakit. Melihat kondisi awan yang cukup bersahabat di sisi utara, memungkinkan untuk dilakukan  penerbangan UAV. Namun sekitar 10 menit setelahnya, awan mendung kembali datang. Kami tetap mencoba menerbangkan pesawat pada jalur terbang yang telah dibuat. Setelah terbang selama 30 menit, UAV pun turun. Kami lihat hasilnya, ternyata tidak memuaskan. Kejar-kejaran dengan cuaca, Pak Ruli pun memutuskan untuk melakukan pengukuran GCP terlebih dahulu. Saya harus jalan kaki turun ke bawah sekitar 200m untuk mencapai titik GCP. Sementara Mas Adon dan 2 teknisi UAV tetap berada di atas untuk mencoba kemungkinan UAV terbang lagi. Sama seperti metode yang digunakan saat hari pertama, pengukuran GCP pun selesai dalam waktu 1 jam. Sesuai ketentuan ketelitian yang ingin dicapai. Di lokasi pengukuran tersebut, saya pun kembali mengobrol. Kali ini dengan penduduk yang menjadi korban longsoran bencana. Saya dengan berpakaian lapangan lengkap, pun ditanya oleh Pak Slamet, “Mas, bukit ini akan longsor lagi nggak ya? Mas, ini kenapa bisa kayak gini ya?” beliau yang terlihat masih trauma dengan bencana yang telah terjadi menanyakan dengan penuh penasaran. Mungkin melihat saya sebagai orang geodesi, bapak itu yakin menanyakan hal ini kepada saya. Yah…saya pun jawab sesuai pengetahuan yang tak punya. “Pak, sekitar 50m dari jalan ini, bapak bisa lihat di sana ada patahan di jalan, itu terjadi karena ada pergeseran yang kemungkinan disebabkan oleh longsoran yang ada di bawah. Kalau ditanya masih mungkin ada longsor atau tidak, tentunya masih pak, melihat tipe tanah yang memang labil dan curah hujan yang cukup tinggi serta pohon yang bukan tipe tanaman penahan air dan tanah.”  Itu jawaban yang coba aku berikan kepada Pak Slamet. Mencoba menjelaskan agar mudah dipahami orang awam adalah hal yang sangat diperlukan. Setelah itu, saya juga coba menanyakan tentang kronologi kejadian bencana yang telah terjadi. “Pak, ini bagaimana ceritanya bencana ini bisa terjadi?” tanyaku. “Ini terjadi sekitar pukul 17.30WIB pada hari Jumat 15 Desember kemarin mas. Sebelum kejadian ada semacam suara ledakan. Lalu longsor, lalu ada api yang menyembul ke atas dan kepulan asap muncul dari lokasi kejadian.” Ini satu peristiwa pertama kali yang saya ketahui bahwa longsoran diikuti jilatan api ke langit dan kepulan asap. Ketika saya lanjut tanya kenapa bisa seperti itu, bapaknya juga bingung. Itulah obrolan manakala pengukuran berlangsung. Nah, setelah pengukuran selesai, kami pun kembali ke bawah. Bergabung kembali dengan tim yang tadi berada di lokasi bencana. Namun pemotretan udara kembali ditunda dikarenakan cuaca yang sekali lagi kurang bersahabat.
Jalan yang patah
Jalur terbang pesawat UAV

Hasil pemotretan 1

Hasil pemotretan 2

Hasil pemotretan 3


Kami menuju Kota Banjarnegara untuk berdiskusi sembari mengisi perut. Di sana kami berdiskusi tentang pemotretan udara yang akan berlangsung. Target hari Jumat selesai pengambilan data pun harus mundur. Sementara saya, Sapta, Mas Adon, dan Pak Iqbal harus ada di Jogja malam harinya. Akhirnya kami berempat pun harus mendahului kembali ke Jogja. Sementara Pak Ruli dan 2 teknisi UAV yang akan melanjutkan pemotretan udara pada hari Sabtunya.
Sedikit hal unik terjadi di pengalaman pertamaku ini terjun di lokasi bencana. Diceritakan Sapta, “Ndan, tadi aku naik eskafator untuk melewati jalan yang kemarin putus. Hahaha”. Kevin juga bilang, “Eskafator kok bego sih. Bego gitu namanya. Hahahaha”. Kami tertawa…yah Kevin orang Sumatera dan Sapta orang Bali yang belum tahu semua kosakata bahasa Jawa.
Sebuah pengalaman yang luar biasa yang saya dapatkan dari 3 hari berada di Banjarnegara ini. Suasana alam yang begitu indah menyertai lokasi bencana ini. Begitu ramahnya penduduk. Diperlihatkan juga bagaimana tolong menolong begitu terasa, tanpa melihat apa golonganmu. Penuh ikhlas dilakukan. Tapi ya inilah kuasa Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan terjadi bencana. Yang bisa manusia lakukan adalah rasa kebersamaan yang tanpa batas dan tolong menolong penuh ikhlas. J

Berikut hasil dari pengolahan data titik GCP dan pemotretan udara yang telah dilakukan dari Tim Teknik Geodesi UGM:


    1. Visualisasi orthophoto area longsor dengan GSD 20cm



    1. Jika area tsb diplot ke Google Earth, ini kenampakannya


    1. Dari data foto yg bertampalan (stereo) bisa digenerate kontur dan DEM nya.


    1. Dari data DEM yg terbentuk, bisa di ekstrak profil melintang pada area longsor. Bisakah anda melihat brp tinggi area (tebing yg longsor)?. Jika kita punya data DEM sebelum longsor, kita bisa prediksi brp volume tanah yg longsor



    1. Overlay DEM dgn orthophoto bs dibuat model 3Dnya. Bs dibuat dalam format KML dan dibuka di Google Earth


    2. Hasil akhir bisa didownload di  https://simpan.ugm.ac.id/public.php?service=files&t=4b0ac254763519b8d866c574426ce559



Yogyakarta, 8 Januari 2015
Bondan Galih Dewanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar