Jumat, 17 April 2015

Penikmat Kesunyian



Hari sudah mulai siang. Duduk memperhatikan dosen yang berbicara mungkin terkadang cukup melelahkan ketika metode pengajaran tak begitu menarik perhatian. Pikiran pun kadang melayang kemana kemari. Ada yang main hp, ada yang ngobrol sendiri, ada yang saling sapa dari kejauhan, dll. Yap…seperti itu lah situasi siang itu. Aku pun tak ketinggalan, kadang pikiranku mengarah ke kegiatan apa setelah sesi ini selesai. Hampir saja lupa, setelah sesi ini ternyata sudah ada janji makan siang bareng temanku sebut saja Bunga Jawa. Makan siang di samping persis tempat yang katanya sering ada penyampaian aspirasi dari mahasiswa melalui aksi turun ke jalan.
Sesampainya di lokasi, kami pun memesan makanan. Seperti biasa, ngobrol pun jadi asik di antara kami. Biasa aku banyolin dia, “mewekan” hehehe. Tapi ya hanya sekedar candaan semata. Apalagi tempat makan ini kata dia menjadi tempat yang ada di memorinya, karena masa kecil dia di Jogja dulu sering ke sana. Tapi protesnya, “Ikannya nggak ada ya ndan, mainannya juga dikit sekarang, nggak kayak dulu. Umur 7 tahun pula maksimal main, kan aku pengen mainan”. Hehehehe ya gitu lah salah satu obrolan kami. Di tengah obrolan, ketemu lah sama sahabatku, sebut saja Najo namanya. Lama nian aku nggak berjumpa dengannya. Masih sering kontak-kontakan sih, fisik saja yang jarang bertatap muka. Dia juga sedang bersama temannya makan. Bunga Jawa pun aku kenalkan ke Najo, sahabatku.

Saat jam sudah hampir menunjukkan jam 3 sore, Bunga Jawa lantas mengajak ke tempat yang tak jauh dari tempat makan. Tempat itu adalah Museum Affandi. Aku seumur-umur juga belum pernah ke sana. Padahal aku juga suka seni. Lantas aku iyakan saja ajakannya, karena memang selama ini penasaran juga dengan sosok pelukis legendaris Indonesia satu ini. Sekitar 50m kami berjalan untuk sampai di gerbang museum. Setelah memesan tiket, kami pun langsung masuk ke bagian-bagian museum. Saat itu ada tiga gedung  Gallery yang berisi lukisan. Ada juga dua studio Gajah Wong. Kenapa Gajah Wong? Karena museum ini terletak persis di barat Sungai Gajah Wong. Ada juga makam Affandi dan istrinya Maryati di komplek museum tersebut. Ketika di sana, tak lupa aku mendekat ke makam dan memanjatkan doa. Aku terkagum dengan karya Affandi dan keluarganya ini. Dengan hampir seluruh hidupnya, didedikasikan untuk seni. Salut.

Rute perjalanan Tugu Yogyakarta - Museum Affandi

Selain mengagumi karya seni lukisnya, ketika itu aku juga mencoba menikmati suasana yang ada. Bagaimana museum ini di desain dengan senyaman mungkin dan terkesan sunyi meskipun berada di tengah-tengah perkotaan. Tetap banyak pohon-pohon yang menyejukkan. Dan selalu saja ada gemericik air yang menemani museum ini. Terlintas di pikiranku suatu saat akan membangun rumah pribadi dengan konsep tak beda jauh dengan ini. Tempat tinggal yang selaras dengan alam dengan lingkungan. Ditemani gemericik air yang selalu membisikkan untuk senantiasa hidup mengalir dan bergelombang dengan tenang. Apalagi seperti aku ini yang penikmat kesunyian. Serasa betah sekali manakala berkunjung ke museum ini. Ada satu waktu membayangkan, jika saja suatu saat terlaksana membangun rumah pribadi yang seperti ini, ketika di malam hari bisa melihat bintang dan langit yang luas dengan puas. Seperti kebiasaan yang selama ini selalu diluangkan. Memberikan ketenangan yang selalu saja berhasil di tengah kebisingan kegiatan. Aku juga pengen menyusupkan nilai-nilai seni dan budaya di rumah pribadiku kelak. Walaupun bukan pemain seni, tapi setidaknya turut lestarikan seni dan budaya yang ada dengan cara tetap menghargai dan menjunjung tinggi seni dan budaya tersebut. Pasti kalau punya rumah pribadi seperti ini, lelah bekerja kan terbayar lunas dan hilang seketika. Ah…..bayang-bayang dan mimpi masa depan, rumah pribadi yang tak perlu mewah. Sederhana namun penuh makna. Semoga saja terwujud.

 
 

Sumber Gambar : http://www.affandi.org/

Di perjalanan menyusuri museum ini, Bunga Jawa juga mencoba memahami setiap komponen yang ada di museum ini. Tak sedikit dia mengungkapkan rasa kagumnya pada komponen tertentu di museum ini. Yah….maklum lah ya, calon perancang yang handal biasanya seperti itu.
Yaaa, cukup lah ya penelusuran museum Affandi. Cukup memberikan referensi tentang makna penikmat kesunyian dari seorang Affandi dan keluarga. J

Yogyakarta, 17 April 2015
Bondan Galih Dewanto



Tidak ada komentar:

Posting Komentar