Rabu, 13 Februari 2013

Kakek Penjual Gulali


Di pagi hari yang cerah, aku duduk di sebuah kamar yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku selama hampir 17 tahun. Ditemani iringan musik yang mendayu, aku memulai aktivitas. Inilah pagi yang biasa aku lakukan ketika di rumah, di masa liburan semester pertamaku di tingkat universitas. Namun pagi ini ada sesuatu yang membuat pikiran dan perasaanku tertuju pada satu hal. Hal tersebut adalah kerja keras seorang pedagang gulali di sebuah sekolah.

Aku teringat ketika pertama kali masuk sekolah dasar(SD)  yaitu SD N Wonosari V pada tahun 2000, sebuah sekolah dasar yang terletak tepat di sebelah timur alun-alun Kota Wonosari. Saat itu aku diantar bapak bersama kakakku yang masih duduk di kelas 5. Seperti biasa aku sebagai murid baru di sekolah itu, tengak-tengok seakan berusaha mengenal situasi di SD itu, termasuk penjual jajanan yang ada. Meskipun uang saku dari orangtua terbilang sangat sedikit dibanding teman-temanku, aku  tetap merasa senang. Salah satu hal yang membuat aku senang adalah kehadiran seorang kakek tua yang menjajakan gulali dan mainan.

Kakek itu mengangkat beban yang kurasa cukup berat. Satu kotak berisi jajanan gulali dan satu kotak berisi mainan. Dengan sepotong bambu yang diletakkan diantara kedua kotak itu, si kakek mengangkat barang yang akan dijajakannya itu. Di waktu istirahat pertamaku ketika SD, aku menghampiri sang kakek, berniat untuk membeli gulali. Yah...meskipun tidak setiap hari aku ke sana, tetapi jajanan itu lah yang sering aku beli ketika SD, mengingat keterbatasan budget. “Jantung sehat!” itulah kalimat yang beliau ucapkan dengan nada tinggi ketika ada anak sekolah lewat di depannya. “Gulali iki enak le, ra kaya sing dodol liyane. Arep dicap apa? Pocong, manuk, utawa jagung?” Ketika aku membeli, juga tak lepas gaya kocak sang kakek.

Kakek itu telah menghiasi halaman depan SDku selama aku bersekolah di sana. Bahkan dalam waktu yang lebih lama sebelum aku memulai belajar di SD, karena kakakku yang sekolah lebih dulu telah mengenal kakek itu lebih lama. Ketika lulus SD, aku masuk SMP N 1 Wonosari. Di masa awal masuk SMP , aku tetap sesekali mengunjungi SDku. Aku ingat pada kakek si penjual gulali dan mainan yang biasa aku kunjungi. Di pikiranku, mungkin kakek itu sudah tak berjualan lagi, mengingat usia yang tak lagi muda, seakan ingin menikmati masa tuanya. Tetapi ternyata masih tetap setia dengan apa yang dijualnya. Aku pun tak lupa untuk membeli gulali buatannya.

Ketika aku SMP, aku mendengar bahwa lokasi SD ku dipindah lokasinya menjadi di sebelah barat daya, sekitar 700 m. SDku dilebur bersama SD N Wonosari III. Harapanku, nama SD itu akan tetap almamaterku, SD N Wonosari V. Namun ternyata kenyataan berkata lain, peleburan SD itu menghasilkan sebuah nama baru, dan namanya benar-benar baru, yaitu SD N Wonosari Baru. Sebuah nama yang sangat asing di telingaku. Sementara itu, lokasi lama SD N Wonosari V, ternyata diambil untuk perluasan SD yang saat itu berbatasan langsung dengan SDku, yaitu SD N Wonosari I. Pemindahan lokasi ini sebenarnya bukan masalah, tapi masalah yang timbul adalah kemana ribuan alumni yang telah dihasilkan SD N Wonosari V akan menunjukkan pada temannya tentang sekolah dasar dimana tempat ia belajar. Termasuk aku. Akankah mengatasnamakan SD N Wonosari Baru? Atau mengatakan bahwa almamater SDku sudah tidak ada? Tinggal saksi bisu, berupa gedung almamater SD ku yang sampai saat ini berdiri kokoh.

Setelah lulus dari SMP N 1 Wonosari, aku melanjutkan sekolah di SMA N 1 Wonosari. Di sekolah inilah aku berusaha mengerucutkan cita-citaku yang awalnya masih sangat banyak. Saat itu adikku juga masuk sekolah dasar. Bukan SD N Wonosari V, bukan juga SD N Wonosari Baru, sebagai nama baru almamater SDku, tetapi orangtuaku memilih memasukkan adikku di SD N Wonosari VI. Mungkin jika SD N Wonosari V masih ada, adikku akan dimasukkan sesuai SD dimana kakak-kakaknya telah mendapatkan ilmu di sekolah itu.

Setelah lulus SMA, aku masuk di Jurusan Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada. Sebagai kakak, di masa kuliah, aku kadang-kadang menjemput adikku, ketika aku libur. Membangkitkan memoriku tentang masa-masa SD yang telah berlalu. Termasuk kakek si  penjual gulali, yang biasa berkata “Jantung sehat!! Arep cap pocong, manuk, utawa jagung le/ nduk?”.

Di masa liburan di semester pertamaku inilah aku menemui kakek penjual gulali itu, kembali. Adikku yang sekarang duduk di kelas 4, sering menceritakan bahwa di sekolahnya  ada kakek penjual gulali yang sering berkata, “Jantung sehat!!”. Lalu ketika aku menjemputnya, aku meminta adikku mengantarkanku ke si kakek itu. Dipikiranku, mungkin bukan kakek penjual gulali yang biasa menghiasi halaman depan almamater SDku. Tetapi ketika sampai di tempat jualan gulali, sesuai yang ditunjukkan adikku, aku langsung tahu bahwa ternyata beliau adalah kakek yang dulu menghiasi halaman depan SDku. Sama sekali tak menyangka kalau kakek itu masih setia dengan dua kotak, satu kotak untuk gulali, dan satu kotak lainnya untuk mainan. Saat itu aku langsung bertanya kepada kakek itu, “Mbah, taksih kemutan kalian kula boten nggih?”. Kakek itu langsung melihat aku dan bertanya, “Lah yo kelingan to le, ning aku lali jenenge sapa?” Hehe, itu lah yang membuat trenyuh peraaan ini. Seorang kakek yang menghiasi halaman SDku, sampai saat ini masih memperjuangkan hidupnya dengan mengangkat dua kotak yang ia angkat dengan potongan bambu dan masih mengingatku. Lalu aku menjawab, “Kula niku Bondan mbah, rumiyin sering tumbas gulali, menika taksih ten SD N Wonosari V”. “Oalah, sing kae, kelingan aku le, aku kelingan rai nanging ora kelingan jeneng je”, kakek itu menjawab. Setelah sedikit obrolan, aku pun tak lupa membeli gulali yang mengingatkanku ketika aku masih berseragam merah putih. “Mbah, kula tumbas gulali, cap jagung nggih”. Kakek itu tersenyum kepadaku, dan bergegas mengambilkan gulali untukku. Tak lupa beliau berkata, “Gulali iki enak le, ra kaya sing dodol liyane. “ Sesuatu yang membuat aku tersenyum karena masih melihat kekocakan dan semangat kakek itu, sekaligus membuat aku trenyuh ketika harus melihat tubuh kakek yang tua yang seakan ingin merasakan nikmatnya masa tua.

Perjuangan hidup kakek penjual gulali itu telah memberikan banyak inspirasi buat aku, bahwa perjalanan hidup adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk diri sendiri dan juga orang lain. Kadang kita nggresula tentang hidup yang kita jalani, tetapi kita tak melihat kondisi orang lain seperti apa. Kuncinya adalah, mensyukuri hidup. Terimakasih kakek penjual gulali...semoga hidupmu selalu dalam lindungan-Nya.
13 Ferbuari 2013
Bondan Galih Dewanto

2 komentar: