Kamis, 05 Maret 2015

Indonesia Poros Maritim Dunia

"Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekedar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri." Itulah penggalan pidato Presiden Pertama RI Soekarno pada tahun 1953. Pidato tersebut tampaknya sangat relevan untuk diwujudkan pada pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla (2014-2019). Mengapa demikian? Hingga kini kita masih memiliki sejumlah masalah besar yang perlu segera diatasi sebelum kita mampu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Restorasi maritim Indonesia tak dapat ditunda lagi.

            Pada saat kampanye-kampanye, yang diutarakan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-JK adalah akan mewujudkan Indonesia menjadi bangsa maritime yang disegani dunia. Setelah menjadi pasangan presiden dan wakil presiden pun beliau senantiasa mengumandangkan Indoanesia wajib menjadi poros maritime dunia hampir di setiap pidatonya. Termasuk  pidato perdana Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) Economic Leaders' Meeting di Beijing, Tiongkok.
            Adapun alasan  kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritime dunia adalah:
  1. Laut merupakan pemersatu wilayah NKRI.
  2. Transportasi laut menjadi utama untuk menghubungkan antar pulau.
  3. Sumber daya mineral dan non mineral, belum dimanfaatkan dengan maksimal
  4. Pertahanan dan keamanan wilayah NKRI.
Keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritime dunia memang tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis Indonesia yang menjadi Negara kepulauan terbesar di dunia, terletak di antara benua Asia dan Australia, serta terletak antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dari kondisi geografis, Indonesia dianugerahi empat titik strategis yang dilalui 40% kapal-kapal perdagangan dunia yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar. Selain itu, sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan.Hal ini mendukung perairan Indonesia untuk menjadi pusat lalu lintas kapal-kapal di dunia. Lalu hal apa yang membuat kita ragu bahwa kita tak mampu menjadi poros maritime dunia?
Dalam usahanya menjadi poros maritime dunia, Indonesia memiliki banyak tantangan. Berbagai potensi dan persoalan berada di depan mata untuk mewujudkannya, seperti Indonesia masih berorientasi pada daratan. Seharusnya dengan visi kemaritimannya, Indonesia diharapkan mampu berperan penting bagi maritim dunia. Indonesia berdasarkan geopolitik, geostrategis, dan geografinya sangat sebagai negara kepulauan sangat cocok untuk menjadi poros maritim dunia. Selain itu tantangan sekaligus peluang yang dihadapi berupa derasnya arus globalisasi serta perubahan paradigma sektor industri dunia. Sudah banyak industri yang berskala global. Sebagai contoh seperti diutarakan oleh Dr. Ir. Son Diamar (Anggota Dewan Kelautan Indonesia), industry yang membutuhkan kesiapan tinggi adalah industry mobil. Bagian-bagian untuk membentuk satu mobil tidak diproduksi di satu negara saja, melainkan di negara-negara lain. Kemudian negara produsen tersebut akan mencari negara tengah yang strategis, yaitu Indonesia. Kemudian dari Indonesia diberangkatkan kembali ke pasar. Untuk menghadapi hal tersebut, Indonesia sudah harus siap dengan sumber daya manusia dan teknologinya untuk menerima kapal-kapal luar negeri. "Anak-anak Indonesia sudah harus siap dan harus digunakan sebagai tenaga kerja di industri tersebut, mereka harus diajarkan keterampilan yang sesuai," ungkap Son Diamar. Untuk melayani kapal-kapal industri tersebut, titik maritim dunia harus diletakkan di dekat alur laut. Berdasarkan penelitian Bappenas, Indonesia memiliki 18 titik maritim dunia.
Berbagai tantangan yang ada, seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk mempercepat persiapkan diri bangsa Indonesia untuk benar-benar mewujudkan Indonesia menjadi poros maritime dunia. Dalam pidato kenegaraan Presiden Jokowi di KTT APEC yang dilaksanakan di Beijing China diutarakan berbagai program yang akan dilaksanakan Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritime dunia. Program-programnya adalah:
1.    Dalam 5 tahun pemerintah ingin membangun 24 pelabuhan. Pembangunan akan dilakukan di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan di Pulau Papua.

Pelabuhan Tanjung Priok


2.    Pemerintah akan membangun tol laut. Tol laut adalah sistem transportasi maritim untuk membuat transportasi berbiaya lebih rendah, untuk membuat biaya transportasi lebih efisien. Pembangunan ini dari barat ke timur. Pada nantinya diharapkan tidak hanya kapal biasa yang bisa masuk tol laut, tetapi juga kapal induk. Jadi, harga dan biaya transportasi menjadi lebih efisien. Sebagai contoh, harga semen, satu karung semen, di Pulau Jawa adalah $ 6 per semen sak. Namun di Pulau Papua harga semen adalah $ 150 per sak. Bayangkan, 25 kali. Jadi kami berharap dengan tol laut kami harga di pulau-pulau kita adalah sama.
Program pemerintah tersebut tentunya harus kita dukung. Namun ada hal-hal yang perlu kita persiapkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritime yaitu menyiapkan petugas khusus untuk menjaga keamanan wilayah yuridiksi laut Indonesia, menjaga keamanan sumber daya alam di laut Indonesia, meningkatkan stabilitas kawasan strategis yang berbatasan dengan Negara tetangga, menjaga keamanan ZEE, meningkatkan kemampuan industry yang mendukung pertahanan peraitan Indonesia, serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kelautan Indonesia. Melalui persiapan-persiapan yang dilakukan pemerintah melalui program dan sikap kita sebagai warga Negara mendukung terwujudnya program, maka tak ada alasan lain bagi bangsa ini untuk menjadi Negara sebagai poros maritime dunia.


Yogyakarta, 5 Maret 2015

Bondan Galih Dewanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar